terkini

Ads Google

Intoleransi, Senjata Pemusnah Massal

Redaksi
7/04/25, 08:30 WIB Last Updated 2025-07-04T01:30:51Z


Tidak semua kehancuran datang dari bom yang dijatuhkan oleh pesawat tempur, atau peluru yang diluncurkan dari tank, atau bahkan dari senjata yang menyalak tanpa henti. Namun, sebagian datang dari hati yang diam-diam menyimpan kebencian, kecurigaan, dan rasa benar sendiri yang tak terbantahkan yang dampaknya sangat mematikan, tak kalah dahsyat dari pada senjata pemusnah massal.


Beberapa hari yang lalu jagat maya Indonesia dihebohkan dengan sebuah peristiwa yang terjadi di Sukabumi Jawa Barat. Bagaimana tidak, sekelompok orang melakukan pembubaran paksa dan pengrusakan terhadap kegiatan retreat yang dilaksanakan oleh pelajar Kristen. Menurut informasi yang beredar, kasus ini bermula dari warga Desa Tangkil dan Desa Cidahu yang mengetahui adanya kegiatan keagamaan yang dilakukan. Warga selanjutnya melaporkan kegiatan retreat tersebut kepada Kepala Desa dan meminta pemilik rumah untuk memberikan klarifikasi. Namun, pemilik rumah mengabaikan permintaan warga tersebut. Merasa tidak terima, warga mendatangi rumah tersebut serta menghentikan kegiatan keagamaan yang sedang berlangsung secara sepihak. Kedatangan warga tersebut kemudian berakhir dengan aksi perusakan. Kerusakan tersebut meliputi pagar rumah, kaca-kaca jendela, dan beberapa barang lainnya. Bahkan, salib yang berada di dalam rumah juga menjadi sasaran perusakan. 


Kejadian diatas adalah salah satu contoh intoleransi yang terjadi di tanah air. Sejarah mencatat banyak kasus intoleransi yang terjadi di dunia yang mengakibatkan banyak nyawa melayang, bangunan rusak parah akibat dari tindakan tersebut. Sikap Intoleransi adalah sikap dimana seseorang tidak mau atau enggan menerima dan menghargai perbedaan, baik ras, suku, agama, pendapat atau perbedaan identitas lainnya. Namun yang ingin difokuskan disini bukan intoleransi dalam ranah suku, agama, ras atau bangsa, tetapi lebih menekankan bagaimana sikap ini muncul dalam hati seseorang yang kemudian bisa memicu terjadinya perpengaran akibat rasa benci dalam skala yang besar. 


Sikap intoleransi bukanlah sikap yang muncul secara tiba-tiba, namun tumbuh secara perlahan akibat doktrin negatif yang tumbuh subur di lingkungan dan kebiasaan yang kurang baik. Ada beberapa penyebab kenapa sikap intoleransi ini bisa muncul dalam diri seseorang.


Pertama, ia muncul karena doktrin negatif yang sering muncul dan terdengar dalam lingkungan terdekat. Tak perlu ajaran formal untuk menumbuhkan intoleransi, cukup biarkan seseorang hidup di tengah lingkungan yang gemar menghina, mencemooh, dan merendahkan orang lain. Sedikit demi sedikit, tanpa sadar, ia menyerap racun itu. Bahkan pribadi yang semula penuh toleransi pun bisa berubah ketika kebencian menjadi suara sehari-hari.


Kedua, sikap intoleransi bisa muncul dari kebiasaan kita yang salah dalam penggunaan teknologi yang semakin maju. Hal ini disebabkan kita enggan untuk mencerna informasi yang masuk atau mengonsumsi informasi tanpa berpikir kritis. Media sosial, berita, atau propaganda yang menyebarkan hoax, ujaran kebencian, atau narasi "kami vs mereka" bisa menghasut seseorang untuk bersikap intoleran.


Ketiga, sikap ini muncul karena pengalaman negatif seseorang dimasa lalu. Trauma, konflik masa lalu, atau pengalaman buruk dengan individu atau kelompok tertentu bisa menumbuhkan prasangka dan kebencian jangka panjang terhadap kelompok tersebut.


Beberapa pemaparan diatas adalah sedikit dari pemicu munculnya sikap intoleransi dalam diri seseorang. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk bisa mencegah atau mengikis penyakit intoleransi yang ada dalam hati kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri kita dari penyakit tersebut. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memilih lingkungan yang baik untuk membentuk karakter kita, baik itu lingkungan rumah tangga, pekerjaan atau teman bermain. Kedua bisa kita lakukan pencegahan dengan cara membiasakan diri untuk lebih bijak dan kritis dalam menerima informasi yang tersebar di berbagai platform media sosial. Ketiga, bisa juga kita lakukan pencegahan dengan mempelajari nilai-nilai keagamaan lebih dalam dengan baik dan benar, karena kita tahu bahwa setiap ajaran agama pasti mengajarkan hal-hal yang positif untuk setiap pemeluknya. Selanjutnya bisa juga kita lakukan dengan intropeksi diri, sadari bahwa semua manusia berbeda. Perbedaan adalah kodrat yang tidak bisa dihindari, baik dalam agama, suku, pendapat, gaya hidup, maupun cara berpikir. Terakhir dengan menambah wawasan atau pemahaman yang bisa dilakukan dengan cara ikut kajian atau diskusi lintas agama dan budaya. Kegiatan seperti ini bisa membantu kita memahami bahwa perbedaan bukan ancaman. Hal yang terpenting agar diri kita terhindar dari penyakit intoleransi ini adalah dengan senantiasa berdoa kepada tuhan yang maha esa agar dilindungi hati dari hal-hal buruk.


Mari kita mulai revolusi sunyi di dalam diri: menebas benih intoleransi sebelum ia sempat berakar. Begitu hati kita kuat memagari rasa curiga dan kebencian, ulurkan tangan dan ajak saudara, sahabat, dan tetangga untuk berbaris di barisan yang sama. Bayangkan, apabila setiap orang menyadari bahwa intoleransi adalah penyakit hati paling mematikan, laksana senjata pemusnah massal yang diam-diam menghancurkan peradaban, betapa mudahnya kita melompat menjauh dari jurang perpecahan. Kini saatnya, bukan esok, atau lusa kita bergandengan, memadamkan bara kebencian, dan merajut kehidupan yang lebih damai dan manusiawi.


Oleh Rahmat Nusantara

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Intoleransi, Senjata Pemusnah Massal

Terkini

Topik Populer

Iklan

Close x