terkini

Ads Google

Surat Terbuka Untuk Gubernur Jawa Barat

Redaksi
12/12/25, 08:38 WIB Last Updated 2025-12-12T01:38:07Z



Soal Penolakan Geothermal Gunung Gede — Berkaca dari Pengalaman Gunung Salak


Oleh Adrian | Perdana Indonesia


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Bapak Gubernur Pak KDM yang kami hormati,

Izinkan suara ini lahir dari tenggorokan rakyat yang hidup di kaki gunung; yang tiap pagi mencium embun, bukan asap pabrik; yang hatinya belum pernah putus dari gunung-gemunung tempat hidup mereka bertaut. Kami menulis bukan untuk menghalangi masa depan—tapi untuk mempertahankan masa depan itu agar tidak dirampas oleh ketergesaan pembangunan.


Gunung Gede: Rumah Air, Rumah Doa, Rumah Hidup


Di Cianjur, Gunung Gede bukan sekadar titik koordinat. Ia adalah sumber air tujuh kabupaten, penjaga hutan tropis, penyangga udara bersih, dan dinding pelindung ribuan keluarga petani. Ketika kabar geothermal masuk dari pintu-pintu rapat yang tak pernah didengar rakyat, keresahan itu wajar lahir:


“Jangan biarkan sumber hidup kami dikorbankan atas nama energi yang manfaatnya tak jelas mengalir ke warga.”


Mereka tidak menolak energi terbarukan. Mereka hanya menolak kehilangan keberlanjutan hidup.


Gunung Salak: Cermin yang Tak Boleh Diabaikan


Kami warga Bogor melihat contoh ini langsung, sebab di Gunung Salak—yang dikelola PT Star Energy Geothermal Salak Ltd (Barito Renewables/Barito Pacific)—rakyat sudah lama menanggung resah.


Bukan dongeng, bukan propaganda:


— Lahan pertanian menurun hasilnya, karena aliran air berubah dan irigasi tak lagi stabil.

— Warga “ring 1” menerima getaran-getaran kecil yang membuat mereka bertanya: benarkah semua ini aman?

— DPR RI pernah turun dan mencatat ketidaksesuaian laporan lingkungan dengan kondisi lapangan.

— Dan hingga hari ini, masyarakat masih mempertanyakan:

“Kalau proyek besar ini ada di tanah kami, kenapa manfaatnya seperti asap: terlihat tapi tak bisa digenggam?”


Inilah cermin yang kami maksud. Jangan sampai Gunung Gede menyusul menjadi babak baru dari kegelisahan yang sama.


Apa Artinya Pembangunan Bila Rakyat Menjadi Tumbal?


Bapak Gubernur Pak KDM,

Kami percaya pembangunan adalah cahaya. Tapi cahaya tak boleh membutakan. Energi tak boleh lahir dari ketidakadilan. Karena apa artinya listrik menyala di kota-kota besar bila desa-desa di kaki gunung kehilangan sumber air? Apa guna energi ramah lingkungan bila lingkungan yang dijanjikan selamat justru paling dulu dikorbankan?


Lebih getir lagi:

pajak dan manfaat finansialnya mengalir ke Jakarta, sementara luka ekologisnya tinggal di Jawa Barat.


Kalau lebih banyak mudaratnya bagi rakyat dan alam,

lebih baik tidak usah dilanjutkan, Gubernur Pak KDM.


Seruan Kami: Pak KDM, duduklah bersama rakyatmu yg gelisah ini.


Dengan rendah hati namun penuh ketegasan, kami menyerukan:


Gubernur Pak KDM,

Datanglah ke Cianjur.

Datanglah ke Gunung Gede.

Datanglah ke Bogor.

Datanglah ke Gunung Salak.


Dengarkan mereka yang tiap hari hidup dalam bayang-bayang proyek yang mereka tidak pahami manfaatnya, tidak rasakan keadilannya, dan tidak diberi ruang untuk menolaknya.


Kami percaya Bapak berbeda.

Kami percaya Bapak adalah pemimpin yang mau mendengar sebelum memutuskan.


Karena itu kami memohon:


Tunda semua proses, buka semua dokumen, dan biarkan rakyat duduk setara dalam dialog.


Jika benar geothermal membawa manfaat besar, jelaskan dengan data yang jujur. Jika ternyata risiko lebih besar dari manfaatnya, maka batalkan—lebih baik menjaga gunung daripada membiarkan luka ekologis yang tidak bisa disembuhkan.


Gunung adalah ibu.

Air adalah nyawa.

Dan tidak ada pembangunan yang pantas bila menukar keduanya.


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Bogor, Jawa Barat — Suara Warga yang Tidak Mau Rumahnya Menjadi Percobaan Energi

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Surat Terbuka Untuk Gubernur Jawa Barat

Terkini

Topik Populer

Iklan

Close x