Oleh Adrian | Perdana Indonesia.
Di Karawang, seorang yang sempat disebut “pengancam” justru dipeluk. Bukan dengan borgol, melainkan dengan empati. Di situlah kita melihat wajah lain kepemimpinan: berani, tenang, dan manusiawi.
Percakapan panjang antara KDM dan Saragih bukan monolog kekuasaan. Ia dialog. Ada ketegangan, ada salah paham, ada ketakutan keluarga, dan ada persoalan konkret: tanah, sungai, jalan, kampung budaya. Di tengah itu, KDM—Dedi Mulyadi—memilih meredam, bukan mengeras. Ia menegaskan: dinamika pemimpin dan warga itu wajar, dan maaf adalah jalan tercepat memulihkan akal sehat publik.
Inilah kepemimpinan yang paham prioritas. Ketika emosi mudah membakar, KDM menurunkan suhu. Ketika isu personal mengganggu, ia menggeser fokus ke kebijakan: normalisasi sungai, penataan sepadan jalan, estetika kawasan industri, pemanfaatan lahan agar produktif. Pengetahuan teknokratik bertemu kebijaksanaan moral. Negara hadir bukan untuk menakuti, melainkan menata.
KDM tidak menutup mata pada aturan. Justru ia merapikannya dengan cara manusiawi: tanah dirapikan dulu agar bernilai, lahan kosong ditanami agar hidup, kampung budaya dibersihkan agar seniman bernapas, dan kewenangan dibagi jelas agar konflik reda. Empati bukan pengganti hukum; empati adalah pintu agar hukum bekerja.
Pelukan KDM kepada Saragih adalah pesan politik paling sunyi tapi paling keras: pemimpin besar tidak menambah musuh, ia mengurangi luka. Jawa Barat tak hanya butuh tangan yang tegas, tetapi hati yang lapang. Di Karawang, itu ditunjukkan—tanpa sorak, tanpa amarah.
Bisakah kita, pendukungnya belajar dari KDM?
Bisakah mereka, yang bukan pendukungnya belajar juga dari KDM?
Atau lagi - lagi tudingan pencitraan & gubernue konten yang mereka sematkan.
Benar benar kebencian yang merusak akal sehat.
#KDM #KemanusiaanPemimpin #Karawang #JawaBarat #KepemimpinanBijak
%20(1)-min.png)

%20(1)-min.png)

