Kabaran.id, Jakarta - Fatayat NU memperingati Harlah ke-76 organisasi di Masjid Istiqlal sebagai momentum memperkuat pengabdian perempuan Nahdliyin bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Peringatan tersebut juga dirangkaikan dengan doa bersama mengenang 40 hari wafatnya Ketua Umum PP Fatayat NU almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah.
Sekretaris Umum PP Fatayat NU Ela Siti Nuryamah menegaskan Fatayat NU terus membuktikan kiprahnya melalui langkah konkret pemberdayaan perempuan di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, kesehatan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
“Fatayat hadir bukan hanya sekadar membuat klaim, tetapi membuktikan diri melalui langkah konkret pemberdayaan perempuan di berbagai bidang, mulai keagamaan, kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi,” ujar Ela Siti Nuryamah, Minggu.
Ela mengatakan perjalanan panjang Fatayat NU selama 76 tahun dibangun melalui kerja-kerja kader yang aktif di berbagai lini kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kader Fatayat NU tidak hanya bergerak di ruang organisasi, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui pendampingan sosial, pendidikan, layanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi perempuan.
Ia menilai kekuatan utama Fatayat NU terletak pada kader-kader yang tetap tangguh dan konsisten bergerak di tingkat akar rumput.
Militansi kader disebut menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.
“Potensi dan aset Fatayat adalah kader-kader yang tangguh, loyal, dan teruji di lapangan. Hujan panas, siang malam, Fatayat tetap hadir melakukan kaderisasi dan pengabdian di seluruh penjuru tanah air,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Andi Majdah M. Zain menyoroti tingginya persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pengasuhan digital, hingga kesehatan mental generasi muda.
Saat membacakan sambutan Menteri PPPA Arifah Fauzi, Andi Majdah menyampaikan Indonesia membutuhkan organisasi perempuan yang mampu menjawab tantangan sosial secara nyata, khususnya dalam perlindungan perempuan dan anak.
“Fatayat NU sejak awal menunjukkan bahwa perempuan muslim dapat menjadi ulama, pendidik, penggerak sosial, pendamping masyarakat, penjaga nilai keislaman, sekaligus pemimpin perubahan,” ujar Andi Majdah.
Ia menambahkan tantangan yang dihadapi perempuan dan anak saat ini semakin kompleks, mulai dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, perkawinan usia anak, perdagangan orang, stunting, hingga persoalan kesehatan mental dan pengasuhan di ruang digital.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan aktif kader perempuan hingga tingkat akar rumput.
Karena itu, Fatayat NU dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat perlindungan sosial berbasis komunitas dan keluarga.
“Indonesia membutuhkan perempuan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berani. Bukan hanya terdidik, tetapi peduli. Bukan hanya aktif di organisasi, tetapi mampu menjadi solusi,” katanya.
Andi Majdah juga memaparkan data kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih memprihatinkan.
Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Perempuan Tahun 2024, sebanyak satu dari empat perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.
Sementara itu, berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024, satu dari dua anak usia 13-17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan.
Data tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan. (AN/Bd20) **


