KABARAN.ID, KEPULAUAN MERANTI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 6.825 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di daerah tersebut.
Berdasarkan laporan NAR, ribuan kasus itu ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia (lansia).
Sementara itu, laporan harian Dinkes Meranti pada 21 Oktober 2026 mencatat 58 kasus ISPA yang tersebar di sejumlah wilayah kerja puskesmas.
Puskesmas Selatpanjang mencatat kasus terbanyak, yakni 19 kasus, disusul Puskesmas Alahair 11 kasus dan Puskesmas Tanjung Samak 10 kasus.
Dari jumlah tersebut, kelompok usia dewasa 19–59 tahun mendominasi dengan 28 kasus. Selanjutnya, balita 10 kasus, lansia 9 kasus, remaja 6 kasus dan anak-anak 5 kasus.
Data pemantauan Dinkes juga memperlihatkan jumlah kasus ISPA mengalami fluktuasi. Dalam periode pencatatan, jumlah kasus sempat mencapai 125 kasus pada 20 Oktober, sebelum tercatat 58 kasus pada laporan 21 Oktober.
Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Widya Nengsih, mengatakan kondisi kabut asap perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat.
Menurut Widya, pihaknya belum dapat memastikan sampai kapan kabut asap akan berlangsung mengingat kondisi tersebut dipengaruhi faktor cuaca dan lingkungan.
"Berapa lamanya itu kita tidak bisa perkirakan, karena ini kan cuaca dan lingkungan," kata Widya.
Ia menjelaskan, keberadaan titik api di sekitar wilayah Kepulauan Meranti maupun kemungkinan asap kiriman dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker untuk meminimalkan paparan asap.
"Ketika ada kabut asap atau ketika udara tidak bagus, kurangi aktivitas di luar dan gunakan masker," ujarnya.
Puskesmas Diminta Perkuat Edukasi dan Pemantauan
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Meranti telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat, baik melalui pelayanan langsung maupun kegiatan penyuluhan di luar fasilitas kesehatan.
Edukasi tersebut juga dilakukan melalui media sosial, penyuluhan kelompok dan berbagai kegiatan promosi kesehatan.
"Dari awal ketika sudah mulai ada, kami sudah mengimbau seluruh puskesmas, lewat puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, baik di dalam maupun di luar gedung," jelas Widya.
Selain sosialisasi, Dinkes juga telah melakukan pembagian masker sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat terhadap paparan kabut asap.
Widya menegaskan, dampak karhutla terhadap kesehatan tidak hanya berupa gangguan saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi.
Di sisi lain, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta memperkuat pemantauan dan pelaporan kasus ISPA secara lengkap, tepat waktu dan berkesinambungan.
Apabila ditemukan lonjakan kasus yang berpotensi mengarah pada kejadian luar biasa (KLB), fasilitas kesehatan diminta segera melaporkannya melalui sistem surveilans berbasis kejadian.
Dinkes juga mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta menggunakan masker ketika sakit maupun saat berada di tempat ramai.
Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek dan demam, terutama kelompok rentan, diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Yang harus masyarakat lakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan menghindari dampak karhutla seperti ISPA dan iritasi, dengan upaya-upaya pencegahan yang sudah diberikan," pungkas Widya.
(Bom)
%20(1)-min.png)

%20(1)-min.png)

