terkini

Ads Google

Membongkar Alasan @Salsaer Muncul & Mengurai Benang Merah Demo

Redaksi
9/15/25, 17:47 WIB Last Updated 2025-09-15T10:47:47Z


oleh Adrian | Perdana Indonesia. 


Di Indonesia, politik selalu bergerak di antara yang tampak dan yang tak kasat mata. Ada kalanya kita hanya melihat potongan kecil di permukaan—seorang mahasiswa bersuara lantang di jalanan, seorang profesional menulis opini di media sosial, atau sebuah demo yang tiba-tiba viral. Tetapi di balik potongan itu ada alur besar yang sering kali tersembunyi: relasi kuasa, jejaring investasi, dan pertarungan warisan rezim. Kasus Salsa Erwina Hutagalung adalah contoh nyata dari itu semua.


Beberapa hari terakhir, nama Salsa mendadak menghiasi pemberitaan. Ia muncul dalam aksi protes dengan suara lantang, seolah mewakili keresahan generasi muda yang menuntut perubahan. Publik pun bertanya-tanya: siapa sebenarnya perempuan ini? Mengapa baru sekarang suaranya terdengar begitu keras, padahal selama satu dekade pemerintahan Jokowi, ia nyaris tak terdengar? Pertanyaan ini tak bisa dijawab hanya dengan meneliti latar personal Salsa. Kita harus menggali lebih dalam, menautkan pekerjaannya, perusahaan tempat ia bernaung, dan ekosistem politik-ekonomi yang melingkupinya.


Salsa bukan sosok sembarangan. Ia bekerja di Vestas, raksasa energi angin asal Denmark, perusahaan yang sudah lama menancapkan kakinya di industri energi terbarukan dunia. Di Indonesia, nama Vestas mulai akrab sejak pertengahan 2010-an. Tahun 2014–2015, mereka masuk lewat inisiatif Wind for Prosperity di Pulau Sumba. Program itu disebut-sebut sebagai proyek percontohan, kolaborasi antara pemerintah Denmark, Kementerian ESDM Indonesia, dan Vestas sendiri. Kala itu, jargon yang diusung adalah elektrifikasi desa, memberi contoh bagaimana turbin angin bisa membawa cahaya ke pelosok negeri. Sebuah kisah yang indah di atas kertas, meski realitas di lapangan tak seindah narasi brosur.


Lalu, Vestas kembali mencatat jejak penting dengan memasok turbin untuk proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) berkapasitas 60 MW, yang disebut sebagai proyek angin pertama Indonesia. Proyek ini berjalan di bawah mekanisme power purchase agreement (PPA) bersama entitas negara. Di atas kertas, langkah ini menandai babak baru transisi energi Indonesia. Namun, siapa pun yang lama mengamati sektor ini tahu, proyek-proyek seperti ini tak pernah berdiri sendiri. Ia butuh restu, butuh tanda tangan, dan butuh keberpihakan politik.


Puncaknya, pada April 2025, Vestas menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan PLN Nusantara Power. Penandatanganan berlangsung di Kementerian ESDM. Dari pihak PLN hadir Dwi Hartono, sementara Vestas diwakili oleh pejabat regional Asia-Pasifik. Berita ini diliput media internasional, menandai langkah serius eksplorasi proyek angin di tanah air. Tetapi lebih dari sekadar MoU, ini adalah simbol: pemerintah Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemain global untuk masuk ke sektor energi terbarukan. Dan siapa arsitek dari iklim investasi ini? Tidak lain adalah rezim Jokowi, dengan loyalis-loyalisnya di kabinet.


Kita tentu masih ingat nama-nama seperti Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi, yang berulang kali tampil di panggung internasional untuk menjajakan potensi energi hijau Indonesia. Atau Luhut Binsar Panjaitan, menteri segala urusan yang sejak lama memegang koordinasi investasi dan kemaritiman. Mereka adalah figur yang dalam satu dekade terakhir menjadi pintu masuk utama bagi perusahaan-perusahaan global seperti Vestas. Di bawah tangan mereka, narasi transisi energi dikampanyekan ke luar negeri, sementara di dalam negeri sering terhambat oleh tarik-menarik kepentingan fosil.


Di sinilah letak ironi yang harus kita renungkan. Vestas, yang memperoleh momentum emas di era Jokowi, kini menjadi bagian tak langsung dari drama politik transisi. Salsa, salah satu profesional muda yang bekerja di sana, tiba-tiba muncul ke permukaan sebagai suara lantang dalam demo. Apakah ini murni suara pribadi? Atau ada arus yang mendorong di belakangnya?


Kita tak bisa menutup mata bahwa politik Indonesia sedang berada di persimpangan. Jokowi selesai dengan dua periode kekuasaan, tetapi jaringannya, loyalis-loyalisnya, dan kepentingan ekonomi yang mereka bangun tak serta-merta hilang. Mereka butuh cara untuk tetap relevan, bahkan mungkin menahan laju Prabowo, yang kini memegang tampuk pemerintahan baru. Dan apa cara paling ampuh untuk mengerem seorang presiden baru? Bukan dengan frontal melawan kebijakan, tapi dengan mengguncang opini publik.


Di titik inilah figur seperti Salsa masuk. Ia punya kredibilitas: profesional di perusahaan energi global, generasi muda, berpendidikan. Ia bukan politisi, sehingga suaranya terdengar “murni”. Tetapi jejaring pekerjaannya—Vestas, perusahaan yang menikmati karpet merah di era Jokowi—membuat posisinya tidak bisa dilepaskan dari konteks politik. Rezim lama sangat mungkin melihat peluang: menjadikan suara seperti ini sebagai kanal baru untuk mengalirkan kritik, meredam manuver Prabowo, sekaligus menjaga kepentingan lama agar tak tergerus.


Apalagi, isu energi hijau adalah komoditas politik yang seksi. Dunia internasional terus menekan Indonesia agar serius dalam transisi energi. Jokowi telah menandatangani berbagai komitmen global, bahkan menerima dana Just Energy Transition Partnership (JETP). Tetapi implementasi di lapangan seret, tersandera kepentingan batubara dan tambang nikel. Kini, ketika Prabowo ingin menata ulang peta energi, mungkin dengan caranya sendiri, suara kritis dari figur-figur seperti Salsa bisa menjadi senjata: mengingatkan, menekan, bahkan menggiring opini internasional.


Apakah Salsa sadar ia sedang dipakai? Itu soal lain. Bisa jadi ia memang murni percaya bahwa yang ia lakukan adalah bentuk idealisme. Tetapi dalam politik, idealisme sering dijadikan alat. Tak ada yang benar-benar berdiri di ruang kosong. Setiap suara, setiap aksi, selalu berada dalam konteks yang lebih besar.


Bagi publik, penting untuk melihat ini sebagai cermin. Demo yang terlihat sederhana bisa punya makna berlapis. Seorang influencer atau profesional muda yang tiba-tiba viral tak selalu sekadar individu, bisa jadi ia adalah simpul dari jejaring lama yang ingin tetap menjaga pengaruh. Dan kita tahu, dalam sejarah Indonesia, rezim lama jarang mau benar-benar pergi. Mereka hanya berubah bentuk, berpindah panggung, memakai aktor baru untuk memainkan drama lama.


Salsa hanyalah satu potongan puzzle. Vestas hanyalah satu pintu masuk. Tetapi dari keduanya kita bisa membaca pola: betapa eratnya hubungan antara investasi global, proyek energi, dan politik kekuasaan. Satu dekade Jokowi telah membuka jalan bagi pemain asing untuk masuk, membangun proyek, meneken MoU. Kini, saat Prabowo ingin bermanuver lebih jauh, resistensi muncul—bukan dengan tank atau pasukan, tapi dengan suara lantang di jalanan, dengan wajah segar generasi muda.


Pertanyaannya bagi kita: apakah ini benar-benar suara rakyat, ataukah gema dari kepentingan lama yang tak rela melepaskan kendali?

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Membongkar Alasan @Salsaer Muncul & Mengurai Benang Merah Demo

Terkini

Topik Populer

Iklan

Close x