terkini

Ads Google

Warisan Nenek Moyang Sejak Zaman Penjajahan, Nasi Boran Obat Rasa Kangen

Sri Handayani
4/21/24, 23:46 WIB Last Updated 2024-04-21T16:47:16Z
Warisan Nenek Moyang Sejak Zaman Penjajahan, Nasi Boran Obat Rasa Kangen

Kabaran Lamongan, - Perjalanan melintasi Kabupaten Lamongan akan terasa kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner nasi boran. Meskipun namanya tidak sepopuler soto dan tahu campur khas Lamongan yang sering terdengar di berbagai kota besar, nasi boran memiliki tempatnya sendiri dalam warisan kuliner daerah.

Nasi boran, atau dalam bahasa Jawa disebut sego boran, mungkin tidak sepopuler Soto Lamongan dan Tahu Campur Lamongan. Namun, makanan ini sebenarnya telah menjadi bagian dari warisan nenek moyang sejak zaman penjajahan.

Kuliner ini dapat dengan mudah ditemukan di wilayah Kabupaten Lamongan, khususnya di pinggir jalan. Beberapa penjualnya berada di ruas Jalan Raya Surabaya - Bojonegoro, terutama pada sore hingga menjelang malam.

Salah satu penjual nasi boran, Suparni, mengungkapkan bahwa kuliner ini merupakan hidangan khas asli Lamongan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Konon, kuliner ini sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia.

"Nasi boran sebenarnya hanya berupa nasi biasa dengan bumbu khas Bali yang lebih lengkap, ditambah dengan ketumbar. Yang membedakannya dengan bumbu Bali adalah adanya kelapa parut yang membuat bumbu terlihat lebih kental," terangnya.

Lalu, dari mana asal nama boran? Boran adalah sebutan untuk tempat nasi yang digunakan untuk menyajikan nasi bersama bumbu dan lauk-pauknya. Tempat nasi ini terbuat dari anyaman bambu, mirip dengan wadah wakul dengan kapasitas besar. Satu wadah bisa menampung hingga 10 kilogram nasi.

"Dulu, lauk-pauknya hanya terdiri dari tempe, tahu, telur, atau ayam kampung. Namun, seiring perkembangan zaman, variasi lauk-pauknya semakin beragam," ujarnya.

Selain lauk yang umum, ada beberapa lauk khas Lamongan yang jarang ditemukan di daerah lain, seperti gimbal empuk, pletuk, dan ikan sili. Gimbal empuk adalah makanan bulat yang terbuat dari tepung terigu dan bumbu lainnya dengan rasa gurih, sementara pletuk adalah kacang kedelai yang disangrai dan dihaluskan.

Penyajiannya juga unik, dimana nasi boran biasanya disajikan pada selembar kertas minyak yang dilapisi dengan daun pisang, kemudian dibentuk menjadi kerucut.

Suparni memerlukan maksimal 10 kilogram beras per hari untuk menjalankan usahanya, mengingat kapasitas tempat atau "boran" yang bisa menampung hingga 10 kilogram nasi. Namun, jika sepi, ia hanya menyiapkan 5 kilogram beras yang dapat menghasilkan 5 kilogram nasi.

Harga nasi boran berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000, tergantung pada lauk yang digunakan. Namun, harga tersebut masih terjangkau untuk dinikmati. Di Lamongan, terdapat beberapa tempat yang menjual nasi boran, terutama di sepanjang Jalan KH. Achmad Dahlan, di selatan Kantor Pemkab Lamongan.

Pilihan untuk menikmati kuliner nasi boran tidak hanya mengobati rasa kangen, tetapi juga memberikan pengalaman unik dalam menjelajahi kekayaan kuliner daerah. *

Editor: Mas Bons
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Warisan Nenek Moyang Sejak Zaman Penjajahan, Nasi Boran Obat Rasa Kangen

Terkini

Topik Populer

Iklan

Close x