Jakarta, Kabaran.id – Peran pemuda dalam sejarah bangsa tidak pernah bisa dilepaskan dari momentum perubahan besar, mulai dari Proklamasi 1945 hingga Reformasi 1998. Kini, memasuki era 27 tahun pasca Reformasi, generasi muda kembali dihadapkan pada tanggung jawab besar: menafsirkan ulang arah bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Syafrudin Budiman, menegaskan bahwa Generasi Z dan Milenial harus mengembangkan Hermeneutika Politik Pancasila. Menurutnya, hal ini bukan sekadar kajian filsafat, tetapi gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Hermeneutika ini bukan sekadar kajian filsafat, melainkan perlawanan terhadap penindasan, kemiskinan, korupsi, kesewenangan, budaya patriarki, oligarki politik, hingga radikalisme yang mengancam Pancasila dan keutuhan NKRI,” ujar Syafrudin dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (10/8/2025).
Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo Gibran (ARPG) itu menekankan, generasi muda harus tampil sebagai Intelektual Organik yang mampu memberi jawaban atas problem sosial, ekonomi, politik, dan hukum.
“Pancasila harus dimurnikan kembali. Bukan hanya jargon politik, melainkan menjadi gerakan nyata untuk membangun karakter bangsa, memperkuat moralitas, dan menegakkan keadilan sosial,” tambah Syafrudin yang juga Ketua Umum Relawan Barisan Pembaharuan 08.
Dalam aspek ekonomi, ia menegaskan pentingnya keberpihakan pada ekonomi kerakyatan sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945. Pemuda, katanya, harus memperjuangkan UMKM, koperasi, dan ekonomi mikro sebagai pilar kesejahteraan rakyat.
“Tidak akan ada kemajuan ekonomi tanpa keadilan sosial, dan tidak ada keadilan sosial tanpa penegakan hukum yang berpihak pada rakyat,” tegasnya.
Lebih jauh, Syafrudin mendorong generasi muda untuk aktif di partai politik, serta membangun konsolidasi lintas kelompok strategis—mulai dari perempuan, disabilitas, media, hingga pelaku usaha. Ia meyakini langkah ini akan melahirkan pemimpin tangguh di masa depan.
“Negara Indonesia bukan sekuler, bukan pula negara agama. Indonesia adalah negara berketuhanan yang berlandaskan nilai profetik, kebangsaan, dan kemanusiaan. Pemuda harus menjaga hal ini,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, ia menekankan tiga dimensi penting dalam Pancasila: realita, idealisme, dan fleksibilitas. Pemuda, kata Syafrudin, harus mampu menghidupkan kembali Pancasila dalam tindakan nyata agar cita-cita Indonesia Emas 2045 benar-benar terwujud.
---
KI
%20(1)-min.png)

%20(1)-min.png)

