Oleh Adrian | Perdana Indonesia.
Potongan Dana Desa Rp 40 triliun membuat ribuan kepala desa marah—tapi di balik kemarahan itu, ada pertanyaan yang lebih penting: dana yang sudah turun bertahun-tahun itu sebenarnya ke mana saja?
Karena faktanya, banyak desa tetap miskin, tetap gelap, dan tetap berlubang.
Papdesi kecewa berat. Pemerintah memotong Dana Desa 2026 hingga tinggal rata-rata Rp 273 juta per desa. Sebelumnya, Dana Desa tahap II bahkan tak dicairkan. Desa protes, merasa pembangunan akan mati suri.
Namun di sisi lain, publik masih mengingat berita demi berita tentang korupsi Dana Desa:
– Kades kabur saat diperiksa.
– Dana ratusan juta dipakai pribadi.
– Proyek fiktif, kuitansi palsu, jalan dibeton 3 cm lalu retak dua bulan kemudian.
Artinya, ekosistemnya bermasalah: anggaran kecil menghambat pembangunan, tapi anggaran besar pun sering “menghilang” sebelum menjadi manfaat.
Pemotongan anggaran memang menyakitkan—tetapi kita juga tidak boleh menutup mata: Dana Desa adalah kantong terbesar yang paling mudah bocor.
Banyak desa mengeluh kekurangan anggaran, tapi rakyat mengeluh lebih keras:
“Lho, dana besar turun tiap tahun, kok jalan kami tetap becek? Jembatan tetap rapuh? Penerangan tetap gelap?”
Ini bukan hanya soal kurang uang, tapi kurangnya pengawasan, kurangnya integritas, dan kurangnya transparansi.
Dan saat pemerintah pusat kehilangan kepercayaan atas efektivitas anggaran, pemotongan menjadi langkah yang—meski pahit—dianggap perlu.
Jika desa ingin mempertahankan anggaran besar, desa harus membuktikan bahwa anggaran besar itu benar-benar menjadi manfaat nyata.
Model transparansi digital, laporan real-time, audit sosial, dan keterlibatan warga harus jadi standar baru.
Karena desa bukan sekadar wilayah administrasi—desa adalah tempat hidup jutaan keluarga, tempat anak-anak berlari, tempat masa depan bertumbuh.
Pemotongan anggaran bisa diperdebatkan.
Tapi satu hal pasti: dana yang bocor lebih berbahaya daripada dana yang berkurang.
Ketika uang hilang, pembangunan berhenti.
Ketika pembangunan berhenti, rakyat ikut hilang harapan.
#DanaDesa #KorupsiDesa #Papdesi #Anggaran2026 #PerdanaIndonesia
%20(1)-min.png)

%20(1)-min.png)
